Imbas Positif Penetapan Presiden Terpilih, IHSG Diprediksi Menguat

Suara.com – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bakal mengalami penguatan usai penetapan capres dan cawapres terpilih Joko Widodo atau Jokowi dan Ma’ruf Amin oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Analis KGI Sekuritas, Yuganur Wijanarko melihat secara teknikal aksi beli mampu menahan efek negatif dari aksi jual IHSG. Sehingga, IHSG selanjutnya bisa bergerak hingga ke level 6.490.

“IHSG dapat close mingguan (Jumat) di atas 6.300, dengan kejadian tersebut maka secara teknikal masih ada ruang lebih naik hingga 6.490 dan momentum medium term jadi bullish,” kata Yuganur di Jakarta, Senin (1/7/2019).

Senada dengan Yuganur, Analis Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya juga memprediksi IHSG menguat.

Menurut William penguatan itu didorong dari rilis data perekonomian inflasi yang disinyalir masih akan dalam kondisi terkendali, tentunya akan membuat pergerakan IHSG memiliki peluang untuk melanjutkan kenaikan.

“Selain daripada itu, dalam beberapa waktu mendatang rilis kinerja emiten paruh pertama juga akan turut menjadi sentimen positif yang memberikan peluang kenaikan IHSG, hari ini IHSG berpotensi menguat,” imbuh William.

Jaga Kestabilan Harga, OPEC Minta Negara Penghasil Minyak Kurangi Produksi

Suara.com – Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) atau organisasi negara-negara pengekspor minyak bumi bakal memperpanjang kebijakan pemangkasan produksi minyak mentah hingga akhir tahun. Hal ini setelah, negara penghasil minyak Irak menyutujui kebijakan tersebut.

Seperti dilansir Reuters, OPEC dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia telah mengurangi produksi minyak sejak 2017 untuk mencegah penurunan harga di tengah melonjaknya produksi Amerika Serikat.

Kekhawatiran tentang melemahnya permintaan global sebagai akibat dari pertengkaran perdagangan AS-China telah menambah tantangan yang dihadapi oleh 14 negara Organisasi Negara Pengekspor Minyak dalam beberapa bulan terakhir.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, pihaknya telah setuju dengan Arab Saudi untuk memperpanjang pengurangan produksi yang ada sebesar 1,2 juta barel per hari.

Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih mengatakan kesepakatan itu kemungkinan besar akan diperpanjang sembilan bulan dan tidak ada pengurangan.

“Ini adalah rollover dan itu terjadi,” kata Falih.

Kepala strategi komoditas di bank Belanda ING Warren Patterson, mengatakan OPEC akan lebih rugi jika tidak memperpanjang pemangkasan tersebut.

“Ini turun sebagian besar ke harga minyak impas fiskal – Saudi memiliki harga impas sekitar 85 dolar AS per barel, sehingga mereka akan khawatir tentang potensi kesenjangan yang melebar antara tingkat ini dan di mana pasar diperdagangkan,” katanya.

Benchmark menyebutkan, minyak mentah Brent telah naik lebih dari 25 persen sejak awal 2019 menjadi 65 dolar AS per barel. Tetapi harga bisa terhenti karena pelambatan ekonomi global menekan permintaan minyak.